Diberdayakan oleh Blogger.

AIR MINUM KEMASAN

Redaksi

PT. SMS
SAMUDRA MUTIARA SATRIA

AHU-0171968. AH. 01.11.2018

Penasehat : Wilson Lalengke, S.Pd.,M.Sc., MA

Dirut : Iswahyudi

Penasehat Hukum : Letkol CPM (Purn) Iwayan Sudama, S.H. MH, Stevanus Eka K, SH, Nasiri, SH., MH, Ady Prayitno SH. M,kn.Musliadi SH.MH., Kiki Mintoroso SH.MH.

Pimpred : Iswahyudi ( Satria)
Dewan Redaksi : Stevanus Eka Kristiawan, SH, Ahmad Zahni
Redaktur : Bormanto
Desain Layout : Dedy S
Bendahara : Yudha Pratama
Marketing : Ika Agustina
Tim Liputan :

Magetan : Ika, Satria Madiun : Ika Saris P Maryono, BormantoPonorogo : Nano Sujarno, Pacitan: Septian Dwi Cahyo, Rojihan, Ngawi : Ika Bormanto, Heritno S, Kediri raya : Ichwan Effendi, Sragen : Yanto, Agung, Gun, Rois. Klaten : Bowo Hariyanto, Suhendar, Nanang. Boyolali : Hartono, Sriyono, Agung. Demak : Abdul Rokhim, Suryantono. Grobogan : Adi Prayitno SH. Mkn., Wiwin. Semarang : Alimun. Kendal : Suroto Anto S. Jogyakarta : Kiki Mintoroso SH. MH. Kalteng : Elby Saputra , Tri Widodo. Padang Lawas : Bonardon Nasution. Rokan Hulu : Eko Sahputra. Surabaya/ Bangkalan : Eko Subroto, Jabodetabek : Saefudin Nasional :PPWI Media Group








Misteri Pulau Jawa dari Masa ke Masa

by : On Februari 05, 2020

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI

Pulau Jawa dinobatkan sebagai Pulau Terbaik di Dunia 2018 Versi Travel and Leisure. Seperti yang dilansir dari situs Travel and Leisure, Pulau Jawa dipilih karena memiliki pemandangan yang begitu memesona dan masih kental dengan budaya kuno. Ternyata, masa- masa jauh sebelum Indonesia Merdeka, pulau Jawa pernah disebut- sebut sebagai pulau terbesar di dunia menurut Marco Polo. Para Kartografer (orang yang memiliki keahlian membuat sebuah peta) sering menerbitkan peta yang terdapat Pulau Jawa di dalamnya dengan berbagai nama, ukuran, bentuk, dan lain-lain.
Java Mayor dan Java Minor pada Peta karya Munster/ Holbein (1540)
Sekitar tahun 1540 Munster/ Holbein menerbitkan untuk pertama kalinya peta Sumatera (Taprobana) termasuk di dalamnya Java Minor sebagai Borneo (Kalimantan) yang terletak di sebelah utara Jawa (Java Mayor). Dalam peta yang dibuat oleh Sebastian Munster (1540), terjadi perubahan koreksi atas kesalahan dalam penyebutan P. Sumatra atau lengkapnya disebut Taprobana Sumatra. Ini berarti untuk pertama kali muncul P. Sumatra dalam peta. Yang unik, dengan perubahan nama Java Minor untuk menyebut P. Sumatra berubah menjadi Taprobana Sumatra, sebutan Java Minor bergeser untuk menyebut Pulau Borneo.
Pulau Jawa digambarkan sebagai Pulau Terbesar
Gambaran Pulau Jawa sebagai Pulau Terbesar dibuat oleh Guillaume Le Testupada tahun 1555, di tulis dalam laporannya berjudul Cosmographie Universelle selon les Navigateurs, tant anciens que modernes. Le Testu menggambarkan sebuah pulau besar (atau benua) yang disebutnya sebagai Jave la Grande (Java Major or Great Java) yang disebutkan oleh Marco Polo.
Pulau Jawa 2x lebih besar dari Borneo
Abraham Ortellius, kartografer dan geografer tersohor asal Belgia, pernah menerbitkan selembar peta berjudul Indiæ Orientalis pada tahun 1570. Peta tersebut menggambarkan wilayah Asia Tenggara, termasuk dengan letak pulau-pulaunya. Ortellius merupakan kartografer pertama yang memiliki pedapat bahwa awalnya benua menjadi satu kemudian terpecah-pecah hingga menemui wujudnya seperti sekarang.
Karena minimnya informasi dari penjelajah, Ortellius menampilkan Pulau Jawa berbentuk bulat dengan sisi selatan yang cembung. Bahkan dalam peta itu Pulau Jawa sekitar dua kali lebih luas ketimbang Borneo (baca: Kalimantan).
Kemisteriusan Jawa sisi Selatan pada peta karya Willem Lodewijcksz
Peta Asia Tenggara karya kartografer Willem Lodewijcksz, yang diterbitkan pada tahun 1598, menampilkan Jawa yang tidak utuh. sisi Selatannya terpotong oleh pembatas bingkai bawah. Tampaknya Lodewijcksz dengan sengaja menyembunyikan kemisteriusan Jawa. Pertanyaan tentang seperti apakah sisi Selatan Jawa yang muncul di peta-peta kuno tak mampu dijawab oleh para kartografer lantaran tidak tersedianya informasi yang cukup pada saat itu. Mereka merupakan kartografer yang hanya mendengar kisah-kisah para petualang yang pernah merintis penjelajahan ke dunia Timur.
Sisi Selatan Jawa dimunculkan pada tahun 1580
Misteri gambaran pesisir Selatan Jawa terpecahkan pada 1580. Francis Drake, seorang pelaut dan politikus Inggris yang mengelilingi dunia pada 1577 sampai dengan 1580, berjejak di pesisir Selatan Jawa.
Setelah menjelajahi kepulauan Maluku dan melewati celah Timor, Drake dan timnya menyusuri jalur Selatan dan mendarat di suatu tempat di pesisir Selatan Jawa, kemungkinan daerah tersebut adalah Cilacap. Lalu peta berjudul Insulæ Indiæ Orientalis karya kartografer Jodocus Hondius terbit pada 1606 dan 1616. Dia menggambar pesisir Selatan Jawa hanya dengan garis putus-putus, namun terdapat garis tegas yang membentuk teluk untuk kawasan pelabuhannya.
Pada awal abad ke 18, Peta Jawa mengalami beberapa perubahan. Pulau jawa terlihat terbagi menjadi 2 bagian ; bagian sunda dan wilayah jawa tengah dan jawa timur pada saat ini. Dalam peta tersebut, terdapat beerapa nama daerah kota yang sudah masuk dalam peta :
  • Bantam (Banten)
  • Xacatara (Jayakarta)
  • Cherebum (Cirebon)
  • Taggal (Tegal)
  • Margam (Semarang)
  • Damo (Demak)
  • Iapara (Jepara)
  • Tubam (Tuban)
  • Sodaio (Sedayu, sekarang dekat dengan Gresik)
  • Surubaya (Surabaya)
Lebih Modern dan Mendekati Aslinya, Peta tahun 1718 lebih detail
Peta Jawa dengan detail yang mendekati aslinya dan dengan gambaran pesisir Selatan yang akurat dibuat kemudian oleh Henri Chatelainpada tahun 1718: Carte de l’Ile de Java: Partie Occidentale, Partie Orientale, Dressee tout Nouvellement (Map of the island of Java: Part Western, Eastern Part, all newly compiled). (by ARIF)

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »