Diberdayakan oleh Blogger.

AIR MINUM KEMASAN

Redaksi

PT. SMS
SAMUDRA MUTIARA SATRIA

AHU-0171968. AH. 01.11.2018

Penasehat : Wilson Lalengke, S.Pd.,M.Sc., MA

Dirut : Iswahyudi

Penasehat Hukum : Letkol CPM (Purn) Iwayan Sudama, S.H. MH, Stevanus Eka K, SH, Nasiri, SH., MH, Ady Prayitno SH. M,kn.Musliadi SH.MH., Kiki Mintoroso SH.MH.

Pimpred : Iswahyudi ( Satria)
Dewan Redaksi : Stevanus Eka Kristiawan, SH, Ahmad Zahni
Redaktur : Bormanto
Desain Layout : Dedy S
Bendahara : Yudha Pratama
Marketing : Ika Agustina
Tim Liputan :

Magetan : Ika, Satria Madiun : Ika Saris P Maryono, BormantoPonorogo : Nano Sujarno, Pacitan: Septian Dwi Cahyo, Rojihan, Ngawi : Ika Bormanto, Heritno S, Kediri raya : Ichwan Effendi, Sragen : Yanto, Agung, Gun, Rois. Klaten : Bowo Hariyanto, Suhendar, Nanang. Boyolali : Hartono, Sriyono, Agung. Demak : Abdul Rokhim, Suryantono. Grobogan : Adi Prayitno SH. Mkn., Wiwin. Semarang : Alimun. Kendal : Suroto Anto S. Jogyakarta : Kiki Mintoroso SH. MH. Kalteng : Elby Saputra , Tri Widodo. Padang Lawas : Bonardon Nasution. Rokan Hulu : Eko Sahputra. Surabaya/ Bangkalan : Eko Subroto, Jabodetabek : Saefudin Nasional :PPWI Media Group








CoV dan Persaingan Dagang

by : On Februari 08, 2020

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI


Dr. Geni Rina Sunaryo, Alumnus Tokyo University, Jepang/Peneliti Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)

Pewarta, Jakarta – Meme-meme lucu yang dikaitkan dengan virus corona (CoV) menjadi penghias media sosial baik di Instagram, Facebook, Twitter maupun Whatsapp grup. Ada meme polisi wanita muda nan cantik dan ayu dengan name tag ”Corona”, cookies ”Corona” dan lain sebagainya. Ini menarik dan menurut saya sangat kreatif.


Semuanya menghibur dan membuat orang tersenyum. Inikah budaya Indonesia yang piawai membuat isu? Meski isu itu politis dan sangat sensitif, tapi meme yang muncul di jagat maya cukup menghibur. Sehingga ketegangan pun sirna. Tidak mencekam lagi.
Travel warning bagi penduduk Tiongkok untuk keluar negari; pelarangan ijin masuk negara lain bagi warga Tiongkok; dan larangan masuk ke negara lain bagi orang-orang yang menginjakkan kaki di Tiongkok — saat ini sedang menjadi trend dunia. Tak terkecuali Indonesia.
Kelihatannya seram. Segala sesuatu yang berasal dari Tiongkok seakan-akan niscaya membawa CoV. Padahal, belum tentu. Itulah sebabnya, ada karantina. Di karantina inilah, scanning CoV berproses. Sejauh ini, masih aman. Indonesia pun belum tertular virus mematikan itu. Tapi berita di media masa cetak dan elektronik terlihat sangat menakutkan. Seakan Indonesia sudah terancam CoV sehingga masyarakat ketakutan.
Mengapa ada gap informasi CoV yang saling bertolak belakang — antara budaya masyarakat yang ”humoris” dan kebijakan politik nasional yang terlalu berlebihan? Ini unik. Dan sangat menarik jika dilihat dari sudut politik.
Tapi sudahlah. Kita tidak usah membahas politik. Ribet dan pusing kepala. Apalagi untuk wanita. Capek deh! Kenapa? Karena, tidak ada yang benar atau salah, semua pasti berlatarbelakang kepentingan ”dagang” yang di ”politiskan
Hal lain yang sangat menarik di balik isu CoV yang sedang nge-trend, adalah perilaku spesies keren si virus itu sendiri. Mengapa spesies amat sederhana itu hidup? Secara alami, CoV memang perlu hidup. Tapi hidupnya unik. Ia hanya hidup dan berkembang biak jika “menempel” pada “lahan hidup”-nya.
Lahan hidupnya, bisa hewan, bisa manusia. Jika tidak, ia seperti spesies mati. Ia seperti substrat yang hidupnya bersifat potensial. CoV seperti benda mati, berada dalam organ kelelawar dan binatang liar lain. Potensi hidup CoV itu muncul jika ia terungkit sesuatu. Lalu, ia menjadikan hewan atau manusia sebagai lahan hidupnya, atau inangnya. Yang menarik, sebagian hewan yang jadi inang CoV, sehat-sehat saja. Tapi manusia yang jadi inangnya, menderita sakit pernafasan. Dampaknya, bisa menimbulkan kematian.
CoV hidup karena terungkit sesuatu? Ya. Dan sesuatu itu muncul akibat ulah manusia yang tidak biasa. Seperti makan daging kelelawar. Padahal kelelawar adalah tempat persembunyian paling nyaman untuk CoV. Lalu, merusak hutan tempat tinggal binatang liar. Dan lain-lain aksi manusia yang tak ramah dengan alam dan lingkungannya.
Kecenderungan menghabisi spesies lain demi untuk kelangsungan hidup sang corona inilah yang diterapkan hingga saat ini untuk menjinakkan virus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), MERS (Midle East Respiratory Sundrome), dan lain-lain. Spesies homo sapiens yang terjangkit CoV, misalnya, diisolasi. Ini agar virus tersebut saling melemahkan atau membunuh sesamamya untuk bertahan hidup. Dan akhirnya virus tersebut akan mati karena saling memakan atau menghancurkan. Filosofi inilah yang dipakai untuk memendam epidemi SARS, MERS, dan sejenisnya. Juga CoV.
Kita runut perjalanan hidup virus dari waktu ke waktu. Tahun 2012, virus MERS menerjang Saudi Arabia. Lalu, tahun 2009, ada virus H1N1 yang menyebabkan flu babi. Sebelumnya, tahun 2003, heboh virus SARS yang muncul di Afrika. Jauh ke belakang, tahun 1918, mencuat virus penyebar flu Spanyol. Ratusan orang tewas akibat cengkeraman virus-virus tersebut.
Tapi, apakah setiap orang yang terindikasi kena virus itu tewas? Tidak! Dari jumlah orang yang terserang virus tersebut, tingkat kematiannya tak lebih dari 2,5%. Malah, ketika H1N1 menyerang manusia, tingkat kematiannya hanya 0,02 persen. Itu terjadi ketika manusia belum mempunyai teknologi kedokteran semaju sekarang. Saat ini, dengan kemajuan teknologi, Insya Allah, tingkat kematiannya akan lebih rendah lagi.
So, tak usah panik berlebihan. Catat, orang-orang yang terjangkit CoV, hanya sedikit yang tewas. Tidak seperti orang yang menghirup gas karbon monoksida atau gas sarin, yang kematiannya nyaris 100 % tewas.
CoV di Wuhan, China, konon, menjadi pandemi yang menjangkau seluruh dunia. Sesak nafas akibat cengkeraman CoV akan menular ke seluruh bumi. Jumlah kematian akibat penyebaran CoV akan sangat banyak. Jutaan manusia akan tewas. WHO mengumumkan, akibat CoV, umat manusia berada dalam darurat global. Benarkah isu itu?
Isu CoV adalah makanan empuk bagi persaingan dagang Sino-Amerika. Tiongkok, memenangkan persaingan itu. Ia, kini sedang menjadi primadona ekonomi dunia. Dan China kudu hancur. Supaya Amerika menang.
So, travel warning untuk warga Tiongkok oleh beberapa negara, termasuk Indonesia, tampaknya lebih bersifat politis. Terpancing isu CoV yang dibesar-besarkan Amerika dan sekutunya. Akibat isu itu, betapa besar kerugian ekonomi yang diderita Tiongkok. Juga negara lain yang ekonominya bergantung pada China. Wow banget!
Pernyataan CoV sebagai wabah ”penyakit menular” oleh para peneliti, memang benar dari sisi ilmiah. Tapi menular sampai tingkat mana, itulah yang sulit diprediksi. Itulah sebabnya, dalam kehidupan sosial, pernyataan itu amat sangat tidak bijak. Ini karena studi laboratorium sangat terbatas parameternya dibanding dunia nyata.
Ada beribu bahkan berjuta parameter yang mempengaruhi pola kerja virus CoV. Jadi tidak mudah untuk menyimpulkan, apakah ini penyakit menakutkan karena mudah menular atau tidak.
Bukankah kelelawar – hewan liar pembawa CoV — wira wiri terbang di sekitar kita? Kenapa orang-orang di pasar Tomohon, Sulawesi Utara, yang menjual daging kelelawar tidak tertular CoV? Jawabannya panjang sekali. Butuh penelitian serius untuk menelaahnya.
So, jangan terlalu berlebihan mengusung isu CoV. Dunia tak akan kiamat karena sebaran sang virus. Isu faktual melelehnya salju di Mount Everest — akibat meningkatnya global warming — jauh lebih mengkhawatirkan umat manusia. Isu hilangnya salju di “atap planet bumi” itu, jelas lebih mencemaskan ketimbang bahaya CoV.

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »