Diberdayakan oleh Blogger.

AIR MINUM KEMASAN

Redaksi

PT. SMS
SAMUDRA MUTIARA SATRIA

AHU-0171968. AH. 01.11.2018

Penasehat : Wilson Lalengke, S.Pd.,M.Sc., MA

Dirut : Iswahyudi

Penasehat Hukum : Letkol CPM (Purn) Iwayan Sudama, S.H. MH, Stevanus Eka K, SH, Nasiri, SH., MH, Ady Prayitno SH. M,kn.Musliadi SH.MH., Kiki Mintoroso SH.MH.

Pimpred : Iswahyudi ( Satria)
Dewan Redaksi : Stevanus Eka Kristiawan, SH, Ahmad Zahni
Redaktur : Bormanto
Desain Layout : Dedy S
Bendahara : Yudha Pratama
Marketing : Ika Agustina
Tim Liputan :

Magetan : Ika, Satria Madiun : Ika Saris P Maryono, BormantoPonorogo : Nano Sujarno, Pacitan: Septian Dwi Cahyo, Rojihan, Ngawi : Ika Bormanto, Heritno S, Kediri raya : Ichwan Effendi, Sragen : Yanto, Agung, Gun, Rois. Klaten : Bowo Hariyanto, Suhendar, Nanang. Boyolali : Hartono, Sriyono, Agung. Demak : Abdul Rokhim, Suryantono. Grobogan : Adi Prayitno SH. Mkn., Wiwin. Semarang : Alimun. Kendal : Suroto Anto S. Jogyakarta : Kiki Mintoroso SH. MH. Kalteng : Elby Saputra , Tri Widodo. Padang Lawas : Bonardon Nasution. Rokan Hulu : Eko Sahputra. Surabaya/ Bangkalan : Eko Subroto, Jabodetabek : Saefudin Nasional :PPWI Media Group








Tahun 2019, Angka Perceraian di Magetan Menurun

by : On Januari 30, 2020

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI

Siti Mar'fuah,S.H.,Panitera Muda Hukum PA Magetan

Pewarta, Magetan - Pengadilan Agama Kabupaten Magetan mencatat terjadi penurunan  perceraian dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.

Menurut keterangan Kepala Pengadilan Agama Magetan melalui Panitera Muda Hukum Siti Mar’fuah, S.H, perkara perceraian yang ditangani PA Magetan pada tahun 2019 sebanyak 1.606. Angka tersebut turun jika dibandingkan tahun 2018, dimana data tahun 2018, PA Magetan  menangani 1.616 perkara perceraian.

“Di tahun 2019 ini cenderung mengalami penurunan, sebagaimana data yang kita sudah laporkan, untuk tahun 2018 itu adalah 1.616, kemudian perkara yang kita terima di tahun 2019 itu adalah 1.606, sehingga penurunan walaupun sedikit ,”kata Siti Mar’fuah  kepada Pewartamadiun.net di ruang kantornya. Rabu (30/1/2020).

Lebih lanjut, Siti Mar’fuah  mengatakan kebanyakan kasus yang ditangani jajarannya masih kisaran usia produktif, dimana kebanyakan kasus atau perkara perceraian pada tahun 2019 didominasi dengan faktor ekonomi, pertengkaran,dan perselingkuhan

“Usia para pihak yang melakukan perceraian adalah usia produktif sekitar 20-40 tahun.  Untuk perkara perceraian ini pada umumnya didominasi pertengkaran,  masalah ekonomi, dan perselingkuhan, jelasnya

Dari sisi pendidikan, Siti Mar’fuah  mengatakan perkara perceraian yang masuk ke PA Magetan dari segi pendidikan itu lebih banyak didominasi oleh masyarakat yang tingkat pendidikannya menengah.

“Ada juga sebagian yang SLTP,  sarjana tapi tidak terlalu banyak, dan lebih banyak lagi adalah yang menengah , hanya setara dengan SLTA usia pendidikannya, sementara kalau dari faktor penyebabnya itu didominasi oleh karena faktor ekonomi rumah tangga yang tidak tercukupi atau kurang, perselingkuhan dan pertengkaran ”ungkap Siti Mar’fuah

Motivasi bercerai, salah satunya KDRT

Siti Mar’fuah  menjelaskan, beberapa motivasi masyarakat mengurus perceraian di Magetan didasarkan atas beberapa motivasi.

“Diantaranya motivasi yang pertama adalah benar-benar orang yang bercerai itu ingin keluar dari masalah rumah tangga yang tidak mungkin ia jalani lagi, karena banyak kejadian KDRT, penelantaran, perselingkuhan, perselisihan yang sangat hebat, dan sudah tidak ada harapan lagi untuk dipersatukan lagi. Kemudian dia melakukan perceraian,”paparnya.

Kedua, kata Siti Marfuah , karena yang bersangkutan sudah siap menikah lagi. Artinya, kata dia, ada beberapa kasus, yang bersangkutan sebenarnya sudah ditinggalkan oleh pasangannya.

“Sudah tidak ada komunikasi lagi, sudah putus informasinya, dan sebagainya, itu sudah bertahun-tahun dan menjalaninya enjoy-enjoy saja. Namun setelah ada calon baru, yang akan menggantikan, baik itu calon suami atau  mungkin kalau yang laki-laki ya calon istri, barulah dia kemudian berusaha untuk mengurus administrasi perceraian  di PA Magetan, dalam rangka untuk menikah lagi,”jelas Siti Mar’fuah

Kemudian ada motivasi yang ketiga, imbuhnya, ini adalah  juga banyak kasus-kasus perceraian di PA Magetan yang dilakukan oleh masyarakat hanya sekedar ingin keluar dari status quo.

“Artinya ada beberapa masyarakat yang sebenarnya itu dibilang bujang dia sudah bersuami atau sudah beristri, dibilang berkeluarga namun juga pasangannya tidak jelas, kemudian dibilang juga janda atau duda dia belum bisa menikah lagi karena masih terikat perkawinan dengan pasangannya,”paparnya.

Atas alasan itu, imbuh Siti Mar’fuah, masyarakat melakukan perceraian itu hanya semata-mata hanya karena ingin bersih saja, supaya dia bisa fokus merawat anaknya dan lain sebagainya, namun belum punya keinginan untuk menikah lagi.

“Itu diantara motivasi orang bercerai di PA Magetan yang selama ini dari pengalaman kami menangani kasus di persidangan kurang lebih tiga motivasi tersebut,”pungkasnya. (sat)

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »