Diberdayakan oleh Blogger.

AIR MINUM KEMASAN

Redaksi

PT. SMS
SAMUDRA MUTIARA SATRIA

AHU-0171968. AH. 01.11.2018

Penasehat : Wilson Lalengke, S.Pd.,M.Sc., MA

Dirut : Iswahyudi

Penasehat Hukum : Letkol CPM (Purn) Iwayan Sudama, S.H. MH, Stevanus Eka K, SH, Nasiri, SH., MH, Ady Prayitno SH. M,kn.Musliadi SH.MH., Kiki Mintoroso SH.MH.

Pimpred : Iswahyudi ( Satria)
Dewan Redaksi : Stevanus Eka Kristiawan, SH, Ahmad Zahni
Redaktur : Bormanto
Desain Layout : Dedy S
Bendahara : Yudha Pratama
Marketing : Ika Agustina
Tim Liputan :

Magetan : Ika, Satria Madiun : Ika Saris P Maryono, BormantoPonorogo : Nano Sujarno, Pacitan: Septian Dwi Cahyo, Rojihan, Ngawi : Ika Bormanto, Heritno S, Kediri raya : Ichwan Effendi, Sragen : Yanto, Agung, Gun, Rois. Klaten : Bowo Hariyanto, Suhendar, Nanang. Boyolali : Hartono, Sriyono, Agung. Demak : Abdul Rokhim, Suryantono. Grobogan : Adi Prayitno SH. Mkn., Wiwin. Semarang : Alimun. Kendal : Suroto Anto S. Jogyakarta : Kiki Mintoroso SH. MH. Kalteng : Elby Saputra , Tri Widodo. Padang Lawas : Bonardon Nasution. Rokan Hulu : Eko Sahputra. Surabaya/ Bangkalan : Eko Subroto, Jabodetabek : Saefudin Nasional :PPWI Media Group








Ribuan Tanaman jeruk di Tambakmas Mati Mengering

by : On Januari 05, 2020

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI


Pewarta, Magetan – Minimnya pasokan air di area lahan, ribuan tanaman jeruk di Desa Tambakmas, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan mati mengering. Hal itu diperparah lagi saat musim kemarau dua tahun terakhir yang lebih panjang dari biasanya.

Salah satu petani jeruk Pamelo, Wargiyanti, mengatakan selain air hujan, untuk mencukupi kebutuhan air pada tanaman jeruknya hanya mengandalkan air pam saja dan itupun untuk area yang terjangkau. Namun ketika musim kemarau yang lebih panjang di dua tahun terakhir membuat dirinya kesulitan mencukupi kebutuhan air tersebut.

“Biasanya menggunakan air pam, tapi itu untuk lahan yang bisa dijangkau. Sedangkan yang lainnya hanya menunggu air hujan,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan ratusan tanaman jeruk miliknya yang mati kering tersebut sudah berusia puluhan tahun. Namun akibat peristiwa ini terpaksa dirinya harus mengulang kembali dari awal dengan menunggu 5-6 tahun kemudian untuk bisa dipanen.

“Pohon yang mati itu saya tanam sejak 1994 sedangkan masa berbuah tiap pohon perlu waktu sekitar 5-6 tahun,” terang Wargiyanti kepada media ini, Kamis (2/1).

Sementara itu, pendapatan sekitar Rp100 juta yang seharusnya dia terima kini menjadi sirna. Ditambah lagi untuk mencabut batang pohon yang mati, dirinya juga harus mengeluarkan biaya untuk upah pekerja.

Dia berharap, pemerintah segera mengambil tindakan terkait kebutuhan air ini agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Berdasarkan informasi, sebagian besar masyarakat Desa Tambakmas adalah petani jeruk Pamelo dan saat ini hampir semuanya mengalami hal yang sama.(NYR)

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »