Diberdayakan oleh Blogger.

AIR MINUM KEMASAN

Redaksi

PT. SMS
SAMUDRA MUTIARA SATRIA

AHU-0171968. AH. 01.11.2018

Penasehat : Wilson Lalengke, S.Pd.,M.Sc., MA

Dirut : Iswahyudi

Penasehat Hukum : Letkol CPM (Purn) Iwayan Sudama, S.H. MH, Stevanus Eka K, SH, Nasiri, SH., MH, Ady Prayitno SH. M,kn.Musliadi SH.MH., Kiki Mintoroso SH.MH.

Pimpred : Iswahyudi ( Satria)
Dewan Redaksi : Stevanus Eka Kristiawan, SH, Ahmad Zahni
Redaktur : Bormanto
Desain Layout : Dedy S
Bendahara : Yudha Pratama
Marketing : Ika Agustina
Tim Liputan :

Magetan : Ika, Satria Madiun : Ika Saris P Maryono, BormantoPonorogo : Nano Sujarno, Pacitan: Septian Dwi Cahyo, Rojihan, Ngawi : Ika Bormanto, Heritno S, Kediri raya : Ichwan Effendi, Sragen : Yanto, Agung, Gun, Rois. Klaten : Bowo Hariyanto, Suhendar, Nanang. Boyolali : Hartono, Sriyono, Agung. Demak : Abdul Rokhim, Suryantono. Grobogan : Adi Prayitno SH. Mkn., Wiwin. Semarang : Alimun. Kendal : Suroto Anto S. Jogyakarta : Kiki Mintoroso SH. MH. Kalteng : Elby Saputra , Tri Widodo. Padang Lawas : Bonardon Nasution. Rokan Hulu : Eko Sahputra. Surabaya/ Bangkalan : Eko Subroto, Jabodetabek : Saefudin Nasional :PPWI Media Group








Para Oemar Bakrie dan Sistem Pendidikan

by : On November 26, 2019

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI

Jakarta - Guru adalah manusia sakti yang ditugaskan untuk mencerdaskan anak bangsa, tapi terkadang pengorbanannya tidak sesuai dengan upahnya. 


Indonesia salah satu negara terbesar di dunia dengan jumlah penduduk hampir 300 juta jiwa, total penduduk yang sebanyak itu otomatis negara butuh energi keras untuk mencerdaskan rakyatnya dan guru adalah alatnya. 

Tapi, melihat fenomena tersebut  pendidikan Indonesia di liputan teriakan demi teriakan dari pelosok negeri, betapa pilunya pendidikan di negeri tercinta ini, padahal anggaran untuk pendidikan Indonesia sangat besar tapi masih saja banyak anak yang putus sekolah dan tidak mampu membayar kuliah. 


Mendengar kata kuliah pun sampai detik ini masih menjadi barang mewah karena mahalnya ongkos yang di keluarkan, beasiswa hanya berkutat pada orang sekeliling kementrian saja dan informasi seolah tidak disebarluaskan mengingat Anggaran pendidikan Indonesia Tahun 2020 sebesar Rp. 508 Trilyun, menurut presiden terpilih RI Joko Widodo ini bukanlah uang kecil, karena fokus kabinet Indonesia maju saat ini membangun manusia seutuhnya. 

Bersumber dari kata data, data peserta didik di Indonesia menurut jenjang pendidikan Tahun Ajaran (TA) 2017/2018. Jumlah peserta didik untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) sebanyak 25,49 juta jiwa atau sebesar 56,26% dari total perserta didik yang mencapai 45,3 juta jiwa. Adapun peserta didik Sekolah Menengah Pertama (SMP) mencapai 10,13 juta jiwa (22,35%).

Sedangkan peserta didik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) mencapai 4,78 juta jiwa (10,56%) dan untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak 4,9 juta jiwa (10,83%).


Presiden RI Indonesia saat ini fokus membangun manusia Indonesia seutuhnya, maka dari itu ditunjukkan seorang Nadiem Makariem seorang anak muda cerdas lulusan Harvard yang akan memberikan Inovasi terhadap pendidikan Indonesia. 

Saya yakin, tidak sembarangan Joko Widodo  menunjuk Nadiem Makariem yang merupakan pencetus Start up gojek tersebut, Indonesia butuh pembaharuan dalam mengejar ketertinggalan di dunia pendidikan, karena menteri menteri yang lama tidak sesuai dengan ekspektasi dari sang presiden. 

Membangun kualitas sumber daya manusia yang baik itu tidaklah mudah memang butuh waktu, tapi jika yang mengerjakan adalah orang jenius dan  di dukung oleh pejabat internal dikementrian saya yakin apa yang di cita citakan sang presiden akan tercapai. 

Seperti kita ketahui di kementrian pendidikan sikut dan intrik nya sangat kencang bahkan seorang Anies Baswedan pun seorang inteletual hebat sampai tersingkir dari kursi panas tersebut.

Mengutip kalimat mutiara , “Kualitas keilmuwan seseorang bukan dilihat dari tinggi dan banyaknya title pendidikannya, namun lihatlah pembawaannya, bagaimana ia berkata dan bertindak”- itulah salah satu hasil pendidikan karakter yang berhasil.


Menurut penulis yang juga pernah menjadi guru, Sofyan Ahmad mengatakan Jika pendidikan kita terlalu fokus pada kejuruan maka sama saja pendidikan kita sangat manut dengan Kaum kapitalis yang memang ingin lulusan SMK dengan skil baik tapi bisa di bayar di murah, dan ini juga perlu menjadi pertimbangan pemerintah. 


Pembangunan akal sehat dari bawah juga perlu di galang, karena dengan akal sehatlah logika bisa dijalankan dalam karya nyata. 

Realitanya saat ini Indonesia bukan kehilangan orang Cerdas tapi kekurangan Orang jujur, jika Republik ini di kelola oleh cerdas tapi tidak jujur pasti akan bermasalah, jadi harus ada tambahan dan fokus pada kajian moralitas  tentang pendalaman agama yang matang dan dapat meresap ke dalam kalbu sang murid, sehingga pembangunan manusia yang saat ini sedang digalang bisa dirasakan di kemudian hari, tutur Sofyan Ahmad.

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »