Diberdayakan oleh Blogger.

AIR MINUM KEMASAN

Redaksi

PT. SMS
SAMUDRA MUTIARA SATRIA

AHU-0171968. AH. 01.11.2018

Dirut : Iswahyudi
Penasehat Hukum : Letkol CPM (Purn) Iwayan Sudama, S.H. MH, Stevanus Eka K, SH

Pimpred : Iswahyudi ( Satria)
Dewan Redaksi : Stevanus Eka Kristiawan, SH
Redaktur : Bormanto
Desain Layout : Dedy S
Bendahara : Yudha Pratama
Marketing : Ajeng, Agustina
Tim Liputan :
Pacitan : Rojihan, Septian Dwi C
Ponorogo : Nano Sujarno
Madiun : Saris Diding P, Bormanto, Maryono
Ngawi : Bormanto, Heritno Satriadi
Magetan : Umar S
Sby/ Bangkalan : Eko S
Sampang : Agus Winarno

Nasional PPWI media group, PPWI Media Network
Media Patner : infomadiunraya.com, teropongnusa.com, lintasatjeh,com pewarta-indonesia.com, indonesiamediacenter.com, kabarsbi.com, kabarxxxi.com




LATAH DAN HOBBY SALAH KAPRAH

by : On November 15, 2019

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI


Oleh : Ust. Ahmad Zahni (Pengasuh Majlis Ta’lim Riyadlul Jannah, Ketua MUI Maospati, Penasehat PPWI, Pembina PWM)

Diharapkan tulisan ini akan membawa manfaat pada para pelaku peradaban di era mutakhir ini, minimal mampu mewarnai mindset pada kesadaran bahwa sejak dahulu sebenarnya agama sudah wanti-wanti agar tidak sembarangan dalam menggunakan lisan. Saya awali dengan sebuah kaidah bahwa :

Malaikat tidak pernah salah, Syetan tidak pernah benar, Manusia kadang salah kadang benar. Oleh karena itu, Agama menganjurkan agar kita saling mengingatkan bukan saling menyalahkan.

Rosululloh di banyak kesempatan telah menyampaikan Salamatul insan fi hifdhil lisan (keselamatan insan itu berada dalam menjaga lisannya). Atau yang sering kita pelajari yaitu Qul khoiron au liyasmut (berkatalah yang baik-baik atau diamlah). Bahkan Baginda Nabi pernah menyampaikan, Alloh sangat membenci orang yang Qiila wa qoola (bicara yang asal bicara, membicarakan yang belum jelas kebenarannya, berkata-kata yang sis-sia tanpa makna).

Di zaman modern ini rasanya sudah sangat jauh dari wanti-wanti tersebut, lihatlah betapa enteng-nya orang mengatakan segala sesuatu tanpa didasari kebenaran, betapa manusia sudah tidak berfikir dahulu sebelum mengatakan sesuatu, kita terlanjur berbaur dalam kubangan latah, manut grubyuk, bangga ikut mem-viral-kan hal-hal yang sia-sia, atau bahkan sering kita tidak mengetahui bentuk kepastian padahal sudah kadung turut mempropagandakan. Nyinyir di media sosial dan bersemangat mengumbar kata-kata supaya dicap paling alim, paling intelek, paling kontemporer. Tetapi, hal yang paling mendasar dari pokok permasalahannya yaitu kebenaran / kepastian belum terpegang tangan. Ingatlah, setiap yang kita ucapkan meski hanya berupa sebuah komen di media sosial itu ada pertanggungjawaban yang mengikat dan mengikuti. Semua ada konsekwensinya. Alam yang sudah rancu dengan hiruk pikuk duniawi ini semakin kacau balau oleh fatwa-fatwa tanpa dasar yang latah dan salah kaprah. Belum lagi yang menyangkut kebohongan (apalagi kebohongan publik) sudah menjadi sego-jangan dan merupakan santapan tiap hari. Sudah terlalu fatal tingkat kekacauan ini, sehingga walaupun diterbitkan Undang-undang sehebat apapun dengan jeratan hukum seberat apapun, jika tidak segera diimbangi oleh i’tiqod manusianya maka akan tetap sia-sia. Zaman akan semakin salah kaprah dan ketenteraman kedamaian di muka bumi kian jauh dari harapan. Tulisan ini hanya ingin mengajak untuk kembali pada wanti-wanti yang pernah Baginda Nabi sampaikan, dengan tetap pada koridor saling mengingatkan bukan saling menyalahkan. Peradaban ini adalah rumah kita bersama yang siapapun pasti menginginkan kedamaian hidup didalamnya. Semoga kita termasuk insan-insan yang pandai mawas diri, muhasabah / introspeksi, nggrayahi githoke dewe sebelum berkoar-koar menunjuk kesalahan orang lain.             

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »