Diberdayakan oleh Blogger.

AIR MINUM KEMASAN

Redaksi

PT. SMS
SAMUDRA MUTIARA SATRIA

AHU-0171968. AH. 01.11.2018

Penasehat : Wilson Lalengke, S.Pd.,M.Sc., MA

Dirut : Iswahyudi

Penasehat Hukum : Letkol CPM (Purn) Iwayan Sudama, S.H. MH, Stevanus Eka K, SH, Nasiri, SH., MH, Ady Prayitno SH. M,kn.Musliadi SH.MH., Kiki Mintoroso SH.MH.

Pimpred : Iswahyudi ( Satria)
Dewan Redaksi : Stevanus Eka Kristiawan, SH, Ahmad Zahni
Redaktur : Bormanto
Desain Layout : Dedy S
Bendahara : Yudha Pratama
Marketing : Ika Agustina
Tim Liputan :

Magetan : Ika, Satria Madiun : Ika Saris P Maryono, BormantoPonorogo : Nano Sujarno, Pacitan: Septian Dwi Cahyo, Rojihan, Ngawi : Ika Bormanto, Heritno S, Kediri raya : Ichwan Effendi, Sragen : Yanto, Agung, Gun, Rois. Klaten : Bowo Hariyanto, Suhendar, Nanang. Boyolali : Hartono, Sriyono, Agung. Demak : Abdul Rokhim, Suryantono. Grobogan : Adi Prayitno SH. Mkn., Wiwin. Semarang : Alimun. Kendal : Suroto Anto S. Jogyakarta : Kiki Mintoroso SH. MH. Kalteng : Elby Saputra , Tri Widodo. Padang Lawas : Bonardon Nasution. Rokan Hulu : Eko Sahputra. Surabaya/ Bangkalan : Eko Subroto, Jabodetabek : Saefudin Nasional :PPWI Media Group








BUDAYA MALU ITU...

by : On November 01, 2019

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI


Oleh : Ust. AHMAD ZAHNI (guru ngaji di Majlis Ta’lim Riyadlul Jannah dan aktif dibidang da’wah dikenal dengan Ustadz Wow, Penasehat DPC PPWI Magetan)


Dihadapan ribuan muriddin-nya Syech Imam Al Qusyairi menyampaikan khithobah yang sangat masyhur tentang Muroqobah, sebuah kaidah tashawuf yang menjadi pegangan para santri dikala itu untuk diamalkan secara aplikatif. Muroqobah diambil dari masdar Roqib yaitu Malaikat yang bertugas mencatat amal sholih yang berada dipundak kanan setiap umat manusia. Muroqobah secara umum bermakna merasa selalu diawasi oleh Alloh melalui malaikat Roqib. Tansah rumongso hangrumangsani ing ndalem pangawasaning Gusti Kang Akaryo Jagad. Kaidah ini termaktub dalam Kitab yang disusun oleh Syech Qusyairi yaitu kitab Ar Risalah Al Qusyairiyah. Manusia akan selalu merasa diawasi dalam setiap gerak langkah perbuatannya bahkan tiap-tiap ucapan lesan serta ruas-ruas pemikiran dalam bathiniah yang jauh tersembunyi dilubuk kalbu. Tataran yang paling tinggi dari pengamalan muroqobah ini adalah ketika rumongso hangrumangsani tersebut sudah merambah pada setiap kedipan mata, unjal ambegan, dan apapun gerak anggota badaniah dari yang tampak maupun yang tersembunyi. Jika seseorang sudah menyadari kehadiran robbul ‘izzati dalam setiap hidup, kehidupan dan penghidupannya maka secara naluriah akan melekat kontrol atas dirinya untuk senantiasa berbuat baik serta menjaga dirinya untuk tidak melakukan kemungkaran, kedzoliman, kekufuran dan seterusnya hal-hal yang dilarang agama. Merasa malu apabila berbuat yang tidak baik, karena selalu dalam pengawasan Alloh Yang Maha Roqib. Rasanya menjadi sangat penting diamalkan di zaman sekarang ini. Inilah hakekat hablu minalloh. Betapa saat ini peradaban sudah sedemikian rapuh disemua tingkatan masyarakat. Anak-anak muda (dan orang-orang tua) begitu murahnya menjual harga diri, tanpa sungkan mereka mempertontonkan aurat secara vulgar. Media Sosial (medsos) menjadi teman akrab untuk menampung lalu menyebar luaskan. Seolah tanpa beban moral sedikitpun. Dawuh Baginda Rosul Al hayaa u minal imaan (bahwa rasa malu itu sebagian dari iman) hanya menjadi slogan semata tanpa ada upaya mengamalkannya. Para pejabat, tokoh masyarakat, dan figur-figur terpandang yang mestinya memberikan contoh suri tauladan, tanpa basa basi menampilkan segala bentuk kenistaan. Sangat bersemangat dalam ajang perdebatan, lantang berpidato bahkan menjual ayat-ayat Al Qur’an dan dalil-dalil Al Hadits tanpa berupaya untuk muhasabah atas dirinya sendiri, berebut kekuasaan dengan membabi buta menghalalkan segala cara, berlomba-lomba menumpuk harta dengan cara merugikan negara, jabatan tinggi dan pendidikan tinggi hanya kamuflase belaka karena yang ditunjukkan dihadapan publik sangat bertolak belakang dari kapasitas yang seharusnya dijaga. Inilah kaidah (pegangan/gegebengan) Muroqobah yang sebenarnya. Marilah dimulai dari diri kita sendiri, menonjok muka sendiri, menohok bathin kita sendiri, menyadari sepenuhnya atas diri sendiri sebelum menghantam orang lain, sebelum lantang berkoar soal surga-neraka, sebelum terlena dan terhina, karena pada hakekatnya kita semua diawasi. Maka sering-seringlah menertawakan diri sendiri dengan kesadaran penuh untuk selalu berupaya berbuat yang terbaik dan merasa malu lalu bertaubat atas kesalahan yang telah diperbuat. innalloha kaana ‘alaikum roqiiba             


SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »