Diberdayakan oleh Blogger.

AIR MINUM KEMASAN

Redaksi

PT. SMS
SAMUDRA MUTIARA SATRIA

AHU-0171968. AH. 01.11.2018

Dirut : Iswahyudi
Penasehat Hukum : Letkol CPM (Purn) Iwayan Sudama, S.H. MH, Stevanus Eka K, SH

Pimpred : Iswahyudi ( Satria)
Dewan Redaksi : Stevanus Eka Kristiawan, SH
Redaktur : Bormanto
Desain Layout : Dedy S
Bendahara : Yudha Pratama
Marketing : Ajeng, Agustina
Tim Liputan :
Pacitan : Rojihan, Septian Dwi C
Ponorogo : Nano Sujarno
Madiun : Saris Diding P, Bormanto, Maryono
Ngawi : Bormanto, Heritno Satriadi
Magetan : Umar S
Sby/ Bangkalan : Eko S
Sampang : Agus Winarno

Nasional PPWI media group, PPWI Media Network
Media Patner : infomadiunraya.com, teropongnusa.com, lintasatjeh,com pewarta-indonesia.com, indonesiamediacenter.com, kabarsbi.com, kabarxxxi.com




Penderita HIV/AIDS di Kecamatan Jiwan Capai 117 Orang, Tertinggi se-Kabupaten Madiun

by : On Agustus 10, 2019

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI


Madiun, Pewarta – Jumlah warga Kecamatan Jiwan yang dinyatakan positif HIV mencapai 117 orang. Dengan 90 orang diantaranya positif AIDS. Jumlah tersebut merupakan yang terbesar se-Kabupaten Madiun. Diikuti Kecamatan Saradan dan Pilangkenceng.

Mirisnya, dari jumlah penderita tersebut 20 persen adalah ibu-ibu rumah tangga. Dan yang lebih mencengangkan, 5 diantaranya masih berstatus pelajar. 

Hal itu disampaikan Bupati Madiun Ahmad Dawami saat sosialisasi integrasi bangsa dalam rangka pemantapan ketahanan bangsa yang diselenggarakan oleh Kesbangpoldagri Kabupaten Madiun di Desa Sambirejo, Kamis (8/8/2019) malam.

"Jumlah riilnya bisa lebih, bahkan 3 kali lipat dan masih terus bertambah jika tempat-tempat prostitusi dibiarkan. Setiap harinya tambah 18 orang yang terinfeksi. Data terbaru, penderita HIV/AIDS yang mangkal disini (Bong Pai.red) jumlahnya bertambah 6 orang," terang Bupati yang akrab disapa Kaji Mbing ini.

Mendengarkan penjelasan Bupati, warga setempat tercengang. Mengingat di wilayah desa setempat terdapat lokasi makam Cina yang disalahgunakan dengan dijadikan ajang transaksi prostitusi.

Dihadapan Bupati, warga setempat sepakat praktek prostitusi di lokasi makam yang masuk wilayah Desa Sambirejo tersebut segera dibubarkan.

Kepala Desa Sambirejo, Suratno mengaku mendukung langkah warganya untuk menutup protitusi di Bong Pai.

Suratno mengungkapkan, stigma negatif yang selama ini melekat harus diakhiri dengan menutup dan membubarkan transaksi esek-esek di tempat tersebut.

“Kami mendukung penuh kesepakatan warga untuk membongkar praktek prostitusi di Bong Pai," tegasnya.

Pada sosialisasi integrasi bangsa Kesbangpoldagri tersebut juga dihadiri tokoh masyarakat, kepala OPD terkait, dan Muspika Kecamatan Jiwan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas serta para undangan tersebut, disepakati pembubaran praktek prostitusi di Bong Pai dilakukan Jum'at (9/8/2019) hari ini.

Diberitakan sebelumnya, warga mengaku praktek transaksi esek-esek di lokasi tersebut sudah sangat meresahkan. Pasalnya, sudah berlangsung puluhan tahun sehingga menimbulkan stigma negatif bagi Desa Sambirejo.

Selain itu, faktor kesadaran akan penyebaran penyakit HIV/AIDS juga menjadi alasan utama masyarakat untuk menutup lokalisasi tersebut.

Keputusan mufakat masyarakat Sambirejo didukung penuh kaji Mbing – sapaan Bupati Madiun.

Orang nomor satu di Pemkab Madiun ini mengatakan, pembubaran prostitusi sejalan dengan program Pemkab Madiun yang menargetkan bersih dari prostitusi pada akhir 2019. Tentunya hal itu akan terwujud jika dibantu adanya kesepakatan masyarakat desa setempat.

"Pemerintah dengan masyarakat harus bersama-sama menolak prostitusi, tanpa itu semuanya tidak bisa terlaksana. Jadi perlu adanya kebersamaan," ujar Kaji Mbing.

Ia menjelaskan bahwa Pemkab tidak serta merta menutup lokalisasi tanpa adanya solusi bagi warga yang mangkal di lokalisasi tersebut.

Pasca pembubaran prostitusi Bong Pai, jika ada yang tercatat sebagai warga Kabupaten Madiun mangkal disana, akan dialihkan untuk membuka usaha dengan dicarikan tempat atau pekerjaan lain. Sedangkan untuk warga dari luar Kabupaten Madiun akan dikembalikan atau dipulangkan ke daerah asalnya.

“Boleh benci maksiat tapi jangan benci pelakunya. Bukannya kami otoriter, Tetap ada program pra eksekusi, hingga pasca penutupan,” ungkapnya. (ant/red)


SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »