Diberdayakan oleh Blogger.

AIR MINUM KEMASAN

Redaksi

PT. SMS
SAMUDRA MUTIARA SATRIA

AHU-0171968. AH. 01.11.2018

Dirut : Iswahyudi
Penasehat Hukum : Letkol CPM (Purn) Iwayan Sudama, S.H. MH, Stevanus Eka K, SH

Pimpred : Iswahyudi ( Satria)
Dewan Redaksi : Stevanus Eka Kristiawan, SH
Redaktur : Bormanto
Desain Layout : Dedy S
Bendahara : Yudha Pratama
Marketing : Ajeng, Agustina
Tim Liputan :
Pacitan : Rojihan, Septian Dwi C
Ponorogo : Nano Sujarno
Madiun : Saris Diding P, Bormanto, Maryono
Ngawi : Bormanto, Heritno Satriadi
Magetan : Umar S
Sby/ Bangkalan : Eko S
Sampang : Agus Winarno

Nasional PPWI media group, PPWI Media Network
Media Patner : infomadiunraya.com, teropongnusa.com, lintasatjeh,com pewarta-indonesia.com, indonesiamediacenter.com, kabarsbi.com, kabarxxxi.com




RESAH DAMPAK PERAYAAN VALENTINE'S DAY REMAJA MUSLIM MAGETAN GELAR AKSI PENOLAKAN DI ALUN-ALUN

by : On Februari 11, 2019

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI

Magetan, Pewarta  - Ratusan remaja muslim yang tergabung dalam Komunitas Remaja Cinta Islam (KRCI) Kabupaten Magetan mengisi waktu libur nya di hari Minggu dengan melakukan Aksi Tolak Perayaan Valentine’s Day di seputaran Alun Alun Magetan (10/02/2019). 

Aksi ini adalah bentuk keresahan terhadap bahaya akibat perayaan valentine's day. Meraka menganggap banyak remaja usia sekolah yang jatuh dalam maksiat saat merayakan hari valentine tersebut. Dengan dalih memperingati hari kasih sayang, mereka melakukan hal-hal tabu yang dilarang oleh agama, seperti berpacaran, bahkan sampai dengan zina. “Kami menolak Valentine’s Day karena banyak kerusakan di di dalamnya. Berawal dari berbagi sepotong coklat, lalu mereka berani bermaksiat kepada Allah,” ujar Adhlan, Ketua KCRI Kabupaten Magetan.

Renika, Korlap Aksi mengatakan bahwa gerakan penolakan ini dimaksudkan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat umum, khususnya para remaja dan orang tuanya, agar tidak ikut-kutan mendukung dan melakukan acara Valentine’s Day. “Karena acara itu tidak sesuai dengan norma dan budaya bangsa Indonesia. Terlebih dari itu, perayaan valentine juga bertentangan dengan agama,” jelas Renika yang juga pengurus Rohis di salah satu SLTA favorit di Magetan.

Aksi Tolak Valentine’s Day ini dimulai pukul 07.00 s/d 10.00 WIB berangkat dari Masjid Agung Baitus Salam dan berakhir di Area Pentas pojok timur Alun-Alun Magetan. Peserta aksi tampak membawa poster, leaflet, banner dan membagi stiker kepada pengunjung Alun-Alun yang isinya himbauan menolak perayaan Valentine yang biasa dilakukan tiap tanggal 14 Februari itu. Setelah berjalan berputar Alun-Alun mereka berkumpul di area pentas untuk sarapan pagi, dan mendengarkan taushiyah yang disampaikan oleh Ustadz Hariyanto dan Ustadz Imam Yudhianto.

Dalam taushiyahnya Ustadz Hariyanto yang juga Kepala Sekolah SDIT Ar Rohmah Magetan, mengatakan, bahwa merayakan Valentine’s Day berarti meniru kebiasaan orang kafir. Karena budaya kaum muslimin tidaklah seperti itu. Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan. Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. “Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya Saint Valentine. Hari Valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta. Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dan dihiasi dengan nama hari kasih sayang,” jelasnya di hadapan ratusan peserta Aksi.
Sedangkan Ustadz Imam Yudhianto, dalam penyampaiannya menerangkan tentang bahaya Proxy War yang sasarannya adalah remaja dan kaum millenial. Proxy War itu diistilahkan dengan Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran) yang bertujuan untuk menjajah atau menguasai negara tertentu dengan taktik strategi yang pertama yaitu merusak moral / mental generasi muda. Ghazwul fikr tersebut disebarkan melalui berbagai sarana, yang dikenal dengan 3F dan 5S, dimana 3F itu terdiri dari Food (makanan), Fun (Hiburan), Fashion (Cara berpakaian). Adapun 5S terdiri dari Song (lagu), Sex, Sport (olahraga), Shopping (berbelanja/konsumerisme), dan penyimpangan pemahaman yang disusupkan dalam Science (ilmu pengetahuan). “Yang semuai itu akhirnya berujung pada upaya untuk melumpuhkan 3 (tiga) hal, yaitu: Ekonomi, Militer dan Lifestyle,” ungkap Ustadz Imam yang juga Ketua Komisi Nasional Pendidikan (KOMNASDIK) Kabupaten Magetan.

Di akhir penyampaiannya ustadz Imam berharap agar Kabupaten Magetan dapat mengeluarkan kebijakan yang berisi larangan perayaan Valentine’s Day seperti daerah lain, baik melalui Perda, Perbup, atau surat himbauan dari Bupati atau Kepala Dinas Pendidikan yang ditujukan kepada para pendidik, peserta didik dan orang tua wali murid se-Kabupaten Magetan, agar generasi muda magetan bisa terselamatkan dari bahaya terpuruknya moral. “Saya berharap agar Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan dapat mengeluarkan kebijakan yang dapat mencegah perayaan  Valentine’s Day di seluruh sekolah di Kabupaten Magetan. Sudah banyak daerah yang mengeluarkan kebijakan seperti ini seperti: Pemerintah Daerah Pasuruan, Surabaya, Malang, Probolinggo, Banyuwangi, Sidoarjo, Tuban, Bangkalan, dan Makassar,” pungkasnya. (im/red)

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »