Diberdayakan oleh Blogger.

AIR MINUM KEMASAN

Redaksi

PT. SMS
SAMUDRA MUTIARA SATRIA

AHU-0171968. AH. 01.11.2018

Penasehat : Wilson Lalengke, S.Pd.,M.Sc., MA

Dirut : Iswahyudi

Penasehat Hukum : Letkol CPM (Purn) Iwayan Sudama, S.H. MH, Stevanus Eka K, SH, Nasiri, SH., MH, Ady Prayitno SH. M,kn.Musliadi SH.MH., Kiki Mintoroso SH.MH.

Pimpred : Iswahyudi ( Satria)
Dewan Redaksi : Stevanus Eka Kristiawan, SH, Ahmad Zahni
Redaktur : Bormanto
Desain Layout : Dedy S
Bendahara : Yudha Pratama
Marketing : Ika Agustina
Tim Liputan :

Magetan : Ika, Satria Madiun : Ika Saris P Maryono, BormantoPonorogo : Nano Sujarno, Pacitan: Septian Dwi Cahyo, Rojihan, Ngawi : Ika Bormanto, Heritno S, Kediri raya : Ichwan Effendi, Sragen : Yanto, Agung, Gun, Rois. Klaten : Bowo Hariyanto, Suhendar, Nanang. Boyolali : Hartono, Sriyono, Agung. Demak : Abdul Rokhim, Suryantono. Grobogan : Adi Prayitno SH. Mkn., Wiwin. Semarang : Alimun. Kendal : Suroto Anto S. Jogyakarta : Kiki Mintoroso SH. MH. Kalteng : Elby Saputra , Tri Widodo. Padang Lawas : Bonardon Nasution. Rokan Hulu : Eko Sahputra. Surabaya/ Bangkalan : Eko Subroto, Jabodetabek : Saefudin Nasional :PPWI Media Group








PENGAMAT : AL ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN BUKAN SEKEDAR MATERI KULIAH TAPI MERUPAKAN ANASIR PERUBAHAN PARADIGMA PENDIDIKAN BANGSA

by : On Desember 23, 2018

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI

Persoalan implementasi pembelajaran Al Islam Kemuhammadiyahan (AIK) pada Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) sedari dahulu hingga sekarang menjadi kajian sentral yang selalu menarik untuk dikaji. Persoalan relevansi pendidikan Al Islam Kemuhammadiyahan, kurikulum, hingga dikotomi pendidikannya menjadi hal yang masih eksis dalam kajian kajian akademik di PTM. “Al Islam Kemuhammadiyahan (AIK) bukan sekedar materi kuliah tapi merupakan anasir perubahan paradigma pendidikan bangsa,” ujar Imam Yudhianto, SH, SE, MM, Pengamat Pendidikan dan Perkaderan Muhammadiyah, di sela-sela Seminar Nasional “Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Multiperspektif”di  Auditorium M. Djazman, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (22/12/2018).

Imam yang juga dosen Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Ilmu Politik (STISIP) Muhammadiyah Madiun menuturkan, secara kosmologi dan embriologis kaderisasi muhammadiyah telah mampu memposisikan diri sebagai gerakan sosial keagamaan dan pendidikan terbesar di indonesia bahkan di dunia dan hal ini tidak terlepas dari proses kaderisasi dan edukasi lewat PTM melalui pembelajaran AIK. Sebagai persyarikatan yang berkemajuan dan selalu menjunjung semangat tajdid dalam merespon perkembangan zaman yang cukup cepat, seyogyanya PTM juga melakukan pembaruan dalam materi AIK yang menyesuaikan dengan dinamika yang terjadi di zaman millenial sekarang ini. “Menjadi tantangan bagi PTM, bagaimana menjadikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai state of mind dan state of achiefment dalam membentuk karater utama lulusan Kampus Muhammadiyah,” jelasnya.

Imam mengamati bahwa mata kuliah AIK saat ini, baru implementasikan pada tataran pengetahuan dan belum masuk ke tingkat substansi, sehingga tidak bisa membekas secara integral dengan pembentukan karakter mahasiswa. “Di sini saya melihat kekerdilan  kemuhammadiyahan kalau hanya masuk dalam mata kuliah, padahal kemuhammadiyahan merupakan konsep filsafati, ruh, dan spirit dan denyut nadi seluruh pergerakan Muhammadiyah, jadi sudah seyogyanya kita harus merubah cara pandang terhadap pembelajaran AIK,” kata Imam

Imam melihat, pembelajaran AIK di beberapa kampus muhammadiyah, masih memiliki kelemahan pada konten materi pembelajaran. Menurutnya, materi pembelajaran sering kali masih terkesan idealis, tidak realistis dan praksis sesuai kebutuhan mahasiswa. “Menjadi keniscayaan, bahwa strategi pembelajaran yang terapkan harus membumi, dosen dalam hal ini berperan meningkatkan keyakinan mahasiswa untuk dapat mewujudkan upaya menuju kinerja dan perilaku islami mahasiswanya melalui pembelajaran AIK.” tegasnya,

Untuk melakukan pembaharuan sistem pendidikan Al Islam Kemuhammadiyahan diperlukan paradigma pendidikan yang mampu mengarahkan pada tujuan dan sasaran pendidikan muhammadiyah yang sebenar-benarnya. Sehingga ini meniscayakan terbentuknya sylabus atau kurikulum AIK yang dapat merespon isu-isu kontemporer di zaman ini, sehingga AIK bukan hanya menjadi materi kuliah belaka, akan tetapi dapat secara real menjadi anasir perubahan paradigma pendidikan karakter bangsa melalui lulusan PTM. “Menjadi urgen saat ini, agar pimpinan PTM segera membentuk dan mengoptimalisasi kinerja Lembaga Pengkajian Al Islam Kemuhammadiyahan untuk mewujudkan hal tersebut,“ tutup Imam. (im/red)

SPACE AVAILABLE / RUANG IKLAN TERSEDIA, SILAKAN HUBUNGI REDAKSI
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »