Diberdayakan oleh Blogger.

$hide=mobile

close
close
Iklan Pemilu 2019 Jujur dan Adil Kebas Kecurangan

Redaksi

PT. SMS
SAMUDRA MUTIARA SATRIA

AHU-0171968. AH. 01.11.2018

Dirut : Iswahyudi
Penasehat Hukum : Letkol CPM (Purn) Iwayan Sudama, S.H. MH, Indri Ananta, SH.MH

Pimpred : Iswahyudi ( Satria)
Dewan Redaksi : Stevanus Eka Kristiawan, SH
Redaktur : Bormanto
Desain Layout : Dedy S
Bendahara : Yudha Pratama
Marketing : Ipung A
Tim Liputan :
Pacitan : Rojihan, Septian Dwi C
Ponorogo : Nano Sujarno
Madiun : Saris Diding P, Bormanto
Ngawi : Bormanto, Heritno Satriadi
Magetan : Nanda Bagoes
Sby/ Bangkalan : Eko S

Nasional PPWI media group, PPWI Media Network
Media Patner : infomadiunraya.com, teropongnusa.com, lintasatjeh,com pewarta-indonesia.com, indonesiamediacenter.com, kabarsbi.com, kabarxxxi.com




Hilang Penglihatan Akibat Kanker, Begini Kondisi Mbah Siam !!!

by : On Desember 19, 2018

Madiun, Pewarta - Sungguh malang nasib yang dialami Siam, nenek berusia 86 tahun, warga RT 04 RW 02 Desa Kwangsen, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun.

Di usianya yang sudah senja, nenek yang biasa disapa Mbah Siam ini harus kehilangan penglihatan. Mata kanan nenek renta itu tak dapat melihat karena usia sedangkan mata kirinya kondisinya juga sangat memprihatinkan.

Kanker di sebelah mata kiri mbah Siam mengakibatkan luka menganga dan menutup indera penglihatannya. Bahkan, luka yang tampak berwarna kemerahan itu semakin hari semakin bertambah lebar.

Ditemui di rumahnya, Mbah Siam mengaku kondisi tersebut sudah ia alami sejak lima bulan lalu. Ia menceritakan, luka tersebut berawal dari sebuah tahi lalat kecil yang terasa gatal. Tak tahan, mbah Siam menggaruknya hingga tahi lalat itupun sobek.

"Rasane gatal, trus kulo kukur kok medal ireng-ireng kados getih mati ngoten niko," (Rasanya gatal, terus saya garuk kok keluar hitam-hitam seperti darah mati itu)," katanya.
Sejak saat itu, luka tersebut terus mengeluarkan cairan dan semakin lama semakin melebar hingga menutupi mata kirinya. Kini, kondisinya semakin memprihatinkan karena nyaris tak tersentuh medis.

"Niki raosipun kemeng ngoten," (Rasanya nyeri)" kata mbah Siam mengungkapkan yang ia rasakan saat ini.

Mbah Siam mengaku pernah diberi bantuan oleh pihak desa setempat berupa uang Rp 350 ribu. Juga sempat dibawa ke rumah sakit oleh anaknya dan perangkat desa setempat untuk diobati. Namun, belum sampai ditangani medis, ia memilih kembali pulang karena takut.

Rumah mbah Siam
Sehari-harinya, nenek yang sebelum sakit berprofesi sebagai tukang pijat itu tinggal bersama anak tunggalnya, Jumiran yang berusia 60-an tahun.

Mereka menempati rumah sederhana yang masih berlantai plester. Beberapa bagian dindingnya juga tampak sudah retak dimakan usia. Tak ada televisi atapun Handphone untuk komunikasi.

Rumah mbah Siam berjarak kurang lebih sekitar satu kilometer ke arah barat dari kantor Desa Kwangsen. Untuk bisa sampai ke rumah mbah Siam, harus menyeberang jembatan dari bambu.

Jembatan itu tidak bisa dilalui kendaraan roda 4 atau lebih. Hanya dengan jalan kaki atau jika punya nyali lebih, anda bisa melintasinya dengan mengendarai sepeda motor.

Jumiran, anak mbah Siam mengaku ibunya sudah memiliki kartu BPJS Kesehatan. Dulu, sang ibu memang pernah akan dirujuk ke rumah sakit. Namun, karena kendala peralatan ketika mencari surat rujukan di Puskesmas Jiwan, terpaksa sang ibu dibawa pulang karena mengeluh lama menunggu.

"Sekitar dua minggu lalu, ibu saya bisa dibujuk untuk dibawa ke rumah sakit, tapi waktu minta surat rujukan dari Puskesmas Jiwan, petugasnya bilang komputernya rusak. Akhirnya simbok (ibu) minta pulang saja karena dah kelamaan menunggu, sejak itu belum dibawa kesana (Puskesmas Jiwan.red) lagi," ungkap Jumiran.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Jumiran bekerja serabutan. Apapun dilakukan asal halal demi menyambung hidup dan merawat sang ibu. Mulai cari rumput, kerja di sawah, atau yang lainnya. Asal tidak jauh-jauh dari rumah karena ia sewaktu-waktu harus kembali ke rumah melihat ibunya.

Jumiran mengaku, selain karena takut dioperasi, dirinya juga tak memiliki biaya untuk pengobatan sang ibu. Pasalnya, penghasilan sebagai buruh serabutan juga tidak seberapa. Bisa untuk makan sehari-hari saja sudah sangat bersyukur.

"Akhirnya ya dikasih obat-obatan biasa seperti obat flu atau sakit kepala yang dijual di toko-toko itu," ungkapnya.

Dia mengungkapkan, para tetangga juga sering menjenguk ibunya. Terkadang ada juga yang memberikan bantuan sekadarnya. Tak hanya itu, akhir-akhir ini beberapa dermawan juga berdatangan ke rumah dan menyerahkan berupa sejumlah uang untuk membantu meringankan derita ibunya.

"Mohon do'anya semoga ibu saya bisa sehat kembali," pungkasnya. (ant/red)

SPACE AVAILABLE
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »